Kamis, 14 Maret 2013

RENUNGAN TENTANG JILBAB

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan hidayah kepada saya untuk menutup aurat. Tepatnya saya sudah lupa. Yang saya ingat kelas 2 SMA saya mulai menutup aurat. Awalnya baru ke sekolah saja, hingga kemudian saya memberanikan diri untuk menutup aurat ketika keluar rumah/bertemu dengan selain mahram.Dengan segala keterbatasan yang ada pada keluarga ditambah tekanan psikologis dari lingkungan yang menganggap jilbab itu menyulitkan, Allah memberi banyak kemudahan kepada saya. Selepas SMA saya bisa langsung diterima di sebuah sekolah kedinasan yang lulusannya langsung diterima menjadi CPNS. Itu sudah mematahkan omongan miring tetangga yang menghina "mau kerja disawah aja pakai jilbab, ribet". Setelah saya bekerja, saya bisa membantu ekonomi keluarga. Dan otomatis itu menaikkan citra jilbaber dikampung saya:)) Para tetangga pun tidak berani lagi mengotak-atik jilbab yang saya pakai.Setelah lebih dari sepuluh tahun, alkhamdulillah sampai sekarang Allah masih memberikan keteguhan kepada saya untuk menutup aurat.
Seiring dengan perkembangan dakwah di negeri ini, jilbab sudah mulai marak. Wanita berjilbab bukanlah hal asing lagi yang kita temui.Namun, ada yang mengganjal dihati ini. Trend Jilbab yang berkembang sudah ada yang mulai menyimpang dari tujuan awal. Bukankah kita berjilbab untuk memenuhi perintah Allah dalam QS AL Ahzab : 59 : “Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” Juga dalam Q.S An Nur : 31 :“Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluan-nya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” Ya, kita diperintahkan oleh Allah untuk menutup aurat kita. Bukan untuk siapa-siapa, tetapi untuk menjaga harga diri dan kehormatan  kita sebagai seorang wanita. Juga merupakan bentuk ibadah kita kepada Allah dan ketaatan kita terhadap perintah-Nya. Oleh karena itu, jilbab yang kita pakai tidak bisa sembarangan. Agar bernilai ibadah dan dicatat sebagai amal kebaikan bagi diri kita, selain niat yang benar syarat-syaratnya pun harus dipatuhi. Secara ringkas syaratnya adalah sebagai berikut :

  1. Menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.
  2. Tidak tipis dan tidak transparan
  3. Longgar dan tidak memperlihatkan lekuk-lekuk dan bentuk tubuh (tidak ketat)
  4. Bukan pakaian laki-laki atau menyerupai pakaian laki-laki.
  5. Tidak berwarna dan bermotif terlalu menyolok. Sebab pakaian yang menyolok akan mengundang perhatian laki-laki. Dengan alasan ini pula maka membunyikan (menggemerincingkan) perhiasan yang dipakai tidak diperbolehkan walaupun itu tersembunyi di balik pakaian
 Pembahasan lebih mendalam mengenai syarat dan dalilnya bisa dicari dibuku-buku fikih tentang wanita.
Ketika niat dan syarat sudah terpenuhi, insyaAllah akan menjadi tambahan pahala bagi kita. Beda lagi ketika sudah ada yang lain dihati. Kita memakai jilbab agar kelihatan cantik, untuk mengikuti mode atau biar dilirik oleh anaknya Pak Ustadz. Niatnya sudah salah. Apalagi jika ternyata jilbab yang kita pakai tidak memenuhi syarat-syarat yg telah ditentukan oleh Allah dalam Al Quran dan Al Hadits. Sungguh tidak beruntung diri kita. Bisa jadi kita mengira kita sudah memenuhi perintah Allah akan kewajiban menutup aurat, namun itu tidak bernilai apa-apa sama sekali. Oleh karena itu perlu kita intropeksi diri lagi. Sudah benarkah niat kita, sudah betulkan tatacaranya. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang merugi. Sebagai penutup saya sampaikan sebuah hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Ada dua golongan dari ahli neraka yang belum pernah saya lihat keduanya itu: (1) Kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang mereka pakai buat memukul orang (penguasa yang kejam); (2) Perempuan-perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, yang cenderung kepada perbuatan maksiat, rambutnya sebesar punuk unta. Mereka ini tidak akan bisa masuk surga, dan tidak akan mencium bau surga, padahal bau surga itu tercium sejauh perjalanan demikian dan demikian.” (HR. Muslim)

Senin, 25 Februari 2013

edisi jan-Feb

Bulan Januari merupakan bulan kelabu bagi perkembangan Dina. Dia sempat diopname di RS Haji karena panas tinggi. Awalnya hanya dua hari sudah boleh pulang. Namun menginap semalam dirumah ternyata panasnya naik lagi. Hingga akhirnya malam Sabtu sekitar pukul 24.00 dibawa ke UGD lagi karena panasnya tinggi lagi sampai 40 derajat. Berdasarkan hasil laboratorium, leukosit tinggi 23.000 yang normalnya 5.000-10.000. Ketika dirawat yang kedua kalinya ternyata leukosit masih diatas normal yaitu sekitar 15.000. Akhirnya pas opname yang kedua itu kami memastikan lagi sampai sembuh benar agar tidak kambuh-kambuh lagi.
Menurut saran dokter, leukosit tinggi karena infeksi bakteri. Oleh karena itu, anak tidak boleh dibiarkan jajan/makan makanan luar yang tidak dapat kita pastikan kebersihannya. Pun dia disarankan untuk tidak bermain ditempat-tempat yang beresiko menjadi sumber bakteri/virus misalnya tempat kotor/tempat sampah. Ditambah lagi kebiasaan anak memasukkan tangan/mainan ke mulut sangat dilarang karena itu termasuk faktor resiko.
Setelah dua tahun ini ku amati, memang bulan Jan-Maret ketika musim penghujan tiba merupakan titik-titik kritis dimana Dina sering sakit. Aku sendiri tidak tahu apakah memang faktor cuaca tersebut punya pengaruh yang tinggi, namun dari hasil menghubung-hubungkan berbagai keterangan ku dapati kesimpulan bahwa pada musim penghujan bakteri dan virus tumbuh subur. Ditambah lagi kondisi Jakarta yang sering banjir jika musim penghujan. Itu sangat rentan menimbulkan berbagai jenis penyakit, terutama bagi anak-anak sistem imunnya masih lemah. Oleh karena itu yang harus diperhatikan adalah bagaimana menjaga dan meningkatkan daya tahan tubuh anak-anak kita ketika cuaca tidak menentu agar tidak terinfeksi oleh virus dan bakteri yang berkembang.

Minggu, 16 Desember 2012

ketika kabar gembira itu datang...

alkhamdulillah setelah sekian lama, akhirnya kabar gembira itu datang juga. Teman baik, teman seperjuangan bahkan dia sudah ku anggap seperti saudara akan menyempurnakan separuh dinnya. Calon pendamping hidupnya pun bukan orang yang asing lagi karena dia adalah adik kelas semasa kuliah dan kebetulan penempatan di wilayah sulawesi selatan. Yang namanya jodoh memang kadang kita tidak pernah menyangka. Sudah kenal lama, bahkan bertahun-tahun. Akan tetapi Allah baru sekarang menggerakkan hati mereka berdua untuk menempuh bahtera rumahtangga. Ya, itulah bukti kebenaran bahwa Allah lah Dzat yang maha membolak-balikkan hati manusia.
22 Desember 2012 tinggal menghitung hari. Bahagia dan sedih bercampur. Bahagia karena akhirnya undangan itu datang juga. Sedih karena aku mendengarnya pertama kali dari orang lain, bukan dari dirimu sendiri. Seakan diriku tiada berarti apa-apa untukmu. Dan lebih sedih lagi karena ternyata aku tidak bisa mengotak-atik jadwal yang sudah tersusun untuk menghadiri acara sakralmu. 2 Minggu terakhir ini adalah puncak kerjaan dikantor, terutama diseksiku. Ditambah lagi hari Sabtu besok adalah jadwal ujian Ma'had yang ku ikuti. Dengan berat hati nampaknya aku harus merelakan diri untuk mendoakan dirimu dari jauh. Maafkan aku teman, aku tidak bisa menemanimu sebagaimana kau menemaniku dulu dihari bahagiaku. Namun doa suciku kan senantiasa mengiringi langkahmu menuju babak kehidupanmu yang baru. Semoga Allah memudahkan segala urusanmu. Amin.

Selasa, 27 November 2012

TERAMPIL MEMASAK???WAJIB, SUNNAH ATAU MUBAH

Dari judul postingan barangkali sudah bisa di tebak kemana arah pembicaraan saya???Ya, pada kesempatan ini saya merasa tergelitik untuk menulis seputar ketrampilan memasak bagi seorang wanita.
Sejak kecil saya bukan orang yang hobi di dapur. Kalau sekedar masak nasi, masak air, masak sop, sayur santan dan sayur tumis saja bisa. Yang penting bumbu dasar semua masakan diuleg, plus garam dan gula merah (saya orang Yogya suka yang manis:) sudah jadi deh. Masalah rasa, ya standar, masih bisa dimakan.he..he.... Berhubung tidak hobi didapur, tidak ada rasa penasaran untuk mencoba-coba resep masakan yang aneh-aneh. Hal ini pun terbawa sampai dewasa.
Ketika merasakan jadi anak kost, baik itu selagi kuliah maupun sudah bekerja, sama saja. Jarang mengeksplorasi dapur yang kadang ada di tempat kost. Lebih sering beli jadi diwarung yang memang banyak tersedia. Kalau sudah bosan di warung ini pindah ke warung yang lain.Pun ketika sudah aktif dipengajian dan sering dapat materi istri shalihah, tidak juga terdorong untuk meningkatkan kemampuan memasak ini. Dalam pemahaman saya kemampuan itu bisa kita pelajari nanti ketika kita memang sudah terjun langsung dan sudah sering pegang dapur. Intinya ntar juga bisa kalau sudah kepepet.
Sekarang, setelah kurang lebih empat tahun menikah, mulai berfikir dan merenung akan masa lalu dan masa sekarang yang dijalani. Bahwa sampai sekarang masih sering beli makanan jadi. "iya". Bahwa sampai sekarang saya tidak jago masak. "Itu Betul". Bahwa sampai sekarang tidak berani menyajikan masakan selain untuk suami(karena tidak pede). "Nggak Salah". ya, itulah keadaannya. Bersyukur saya punya suami yang sabar dan tidak pernah menuntut lebih. Dimasakin ya dimakan (biar bagaimanapun rasanya), tidak dimasakin beli diwarung atau lari ke rumah ibu(he..he...yang ini jangan ditiru!!!).
Meskipun begitu, perasaan bersalah tetap ada. Saya sebagai seorang istri kurang cakap dalam mengatur rumah tangga. Tidak mampu menyediakan makanan terbaik dan terlezzat untuk suami dan putri tercinta. Dan kadang muncul pertanyaan, kemana saja saya selama ini. Ketika waktu luang masih banyak untuk belajar. Harusnya saya dulu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Kini, meskipun terlambat saya berazzam untuk mengejar. Sungguh ketika kita memasak dengan tangan kita sendiri. Kemudian kita sajikan untuk suami dan anggota keluarga kita. Melihat suami kita makan dengan lahap, bahkan minta tambah. Ada rasa dihati ini yang bergejolak. Ya, rasa puas dan rasa syukur karena suami kita menyukai masakan kita. Dan saya yakin, jika setelah kita menikah kita sudah punya kemampuan memasak beraneka ragam masakan, kita akan mampu membuat kejutan-kejutan untuk suami kita, juga untuk anak-anak kita. Itu akan lebih membuat rumahtangga kita berwarna. Itu semua belum termasuk bonus pahala yang kita dapat lho ya:)
Nah, jadi bagaimana teman-teman?kiranya sudah bisa terjawab pertanyaan saya diatas. Tidak ada kata terlambat untuk belajar bagi yang telah menikah. Bagi yang belum menikah, mulai sekarang saatnya memanfaatkan kesempatan yang ada. SEMANGAAAAAAAAAAAAATTTTT!!!!!!!!!!!

Selasa, 30 Oktober 2012

yuk yah!!!!!!

dapet artikel ini dieramuslim yah. semoga mengingatkan kita untuk kembali ke jalan orang-orang sholeh yang menjaga shalat malamnya

Abdullah bin Umar dan Sholat Tahajjud

Ihsan Tandjung – Minggu, 24 April 2011 16:21 WIB
Salah seorang sahabat Rasulullah صلى الله عليه و سلم ialah Abdullah bin Umar radhiyAllahu ‘anhuma. Beliau adalah seorang sahabat mulia putra dari salah seorang sahabat utama yakni Umar bin Khattab radhiyAllahu ‘anhu. Beliau seorang yang dikaruniai Allah سبحانه و تعالى ke-faqih-an (kedalaman pemahaman) dalam ilmu-ilmu mengenai dienullah Al-Islam. Beliau juga terkenal seorang yang zuhud (tidak terikat hati dengan dunia) dan ‘abid (rajin ber-ibadah kepada Allah سبحانه و تعالى). Sewaktu masih muda belia, Abdullah bin Umar radhiyAllahu ‘anhuma berangan-angan seandainya ia dapat bermimpi sesuatu yang menyebabkan dirinya punya alasan untuk berkonsultasi langsung kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم . Ia iri melihat seorang yang menceritakan mimpinya kepada Rasulullah صلى الله عليه و سلم . Kisahnya disampaikan di dalam hadits di bawah ini oleh dirinya sendiri:
عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ كَانَ الرَّجُلُ فِي حَيَاةِ
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
إِذَا رَأَى رُؤْيَا قَصَّهَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَمَنَّيْتُ أَنْ
أَرَى رُؤْيَا أَقُصُّهَا عَلَى النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ وَكُنْتُ غُلَامًا شَابًّا عَزَبًا
وَكُنْتُ أَنَامُ فِي الْمَسْجِدِ عَلَى عَهْدِ
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَرَأَيْتُ فِي النَّوْمِ كَأَنَّ مَلَكَيْنِ
أَخَذَانِي فَذَهَبَا بِي إِلَى النَّارِ
فَإِذَا هِيَ مَطْوِيَّةٌ كَطَيِّ الْبِئْرِ
وَإِذَا لَهَا قَرْنَانِ كَقَرْنَيْ الْبِئْرِ
وَإِذَا فِيهَا نَاسٌ قَدْ عَرَفْتُهُمْ
فَجَعَلْتُ أَقُولُ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ النَّارِ
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ النَّارِ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ النَّارِ
قَالَ فَلَقِيَهُمَا مَلَكٌ فَقَالَ لِي
لَمْ تُرَعْ فَقَصَصْتُهَا عَلَى حَفْصَةَ
فَقَصَّتْهَا حَفْصَةُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ النَّبِيُّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللَّهِ
لَوْ كَانَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ
قَالَ سَالِمٌ فَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ
بَعْدَ ذَلِكَ لَا يَنَامُ
مِنْ اللَّيْلِ إِلَّا قَلِيلًا
Dari Abdullah Ibnu ‘Umar radhiyAllahu ‘anhuma dia berkata; “Apabila ada seseorang yang bermimpi pada masa Rasulullah  maka ia pun akan menceritakan mimpi itu kepada Rasulullah, hingga saya juga ingin sekali bermimpi dan menceritakannya kepada beliau. Ketika remaja, pada masa Rasulullah  , saya pernah tertidur di masjid. Dalam tidur itu saya bermimpi bahwa ada dua malaikat yang menangkap saya dan membawa saya ke neraka yang tepinya berdinding seperti sumur dengan dua tali seperti tali sumur. Ternyata di dalam sumur tersebut ada beberapa orang yang saya kenal dan segera saya ucapkan: ‘Aku berlindung kepada Allah dari siksa neraka. Aku berlindung kepada Allah dari siksa neraka. Aku berlindung kepada Allah dari siksa neraka.’ Tak lama kemudian, kedua malaikat tersebut ditemui oleh satu malaikat lain dan ia berkata kepada saya; ‘Kamu akan aman.’ Lalu saya ceritakan mimpi saya itu kepada Hafshah radhiyAllahu ‘anha dan Hafshah menceritakannya kepada Rasulullah  . Kemudian Rasulullah  bersabda: ‘Sebaik-baik orang adalah Abdullah bin Umar radhiyAllahu ‘anhuma, jika ia berkenan melaksanakan shalat di sebagian malam.’ Salim radhiyAllahu ‘anhu berkata; ‘Setelah itu Abdullah bin Umar radhiyAllahu ‘anhuma tidak pernah tidur di malam hari kecuali sebentar.’ (MUSLIM – 4528)
Subhanallah... berdasarkan hadits di atas kita dapat melihat betapa kedekatan Abdullah bin Umar radhiyAllahu ‘anhuma dengan Allah سبحانه و تعالى sehingga ia dikaruniai Allah سبحانه و تعالى nikmat berupa mimpi yang semakin mendorongnya untuk lebih banyak lagi beribadah. Dalam hal ini ibadah sholat malam atau sholat tahajjud. Ia memang terkenal seorang ‘abid, tetapi rupanya Allah سبحانه و تعالى menghendaki agar ia menjadi seorang ‘abid yang lebih baik lagi sehingga ia didorong untuk membiasakan dirinya tidak melewati malam kecuali dengan menegakkan sholat tahajjud. Ia akhirnya menjadi seorang hamba Allah سبحانه و تعالى yang tidak tidur di malam hari kecuali sedikit saja. Sisanya ia habiskan waktu malamnya untuk ber-khalwat (berdua-duaan) dengan Rabbnya, Allah سبحانه و تعالى .
Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم sangat menganjurkan ummatnya agar biasa menegakkan sholat malam. Bahkan beliau menyebutnya sebagai sholat yang paling utama sesudah sholat wajib lima waktu:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ
شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ
وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ
صَلَاةُ اللَّيْلِ
Dari Abu Hurairah radhiyAllahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah  bersabda: "Sebaik baik puasa setelah puasa di bulan Ramadlan adalah puasa di bulan Muharram dan sebaik baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam." (TIRMIDZI – 402)
Oleh karenanya uswah hasanah kita Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم mencontohkan bahwa beliau tidak pernah meninggalkan sholat malam bagaimanapun keadaannya. Hatta beliau sedang sakit sekalipun, beliau tetap mengerjakannya. Subhaanallah.
قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا
لَا تَدَعْ قِيَامَ اللَّيْلِ
فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
كَانَ لَا يَدَعُهُ وَكَانَ إِذَا مَرِضَ
أَوْ كَسِلَ صَلَّى قَاعِدًا
Aisyah radliallahu ‘anha berkata; "Janganlah kamu meninggalkan shalat malam (qiyamul lail), karena Rasulullah صلى الله عليه و سلم tidak pernah meninggalkannya, bahkan apabila beliau sedang sakit atau kepayahan, beliau shalat dengan duduk." (ABUDAUD – 1112)
Bahkan terdapat sebuah hadits yang meriwayatkan bahwa jika Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم tidak sempat sholat malam lantaran ketiduran, maka beliau menggantinya dengan melakukannya di siang hari.
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
إِذَا لَمْ يُصَلِّ مِنْ اللَّيْلِ
مَنَعَهُ مِنْ ذَلِكَ النَّوْمُ
أَوْ غَلَبَتْهُ عَيْنَاهُ صَلَّى مِنْ
النَّهَارِ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
Dari ‘Aisyah radhiyAllahu ‘anha dia berkata, adalah Nabi  jika tidak sempat shalat malam karena ketiduran atau terserang kantuk, beliau shalat disiang hari sebanyak dua belas raka’at. Abu Isa berkata, ini adalah hadits hasan shahih. (TIRMIDZI – 407)
Ya Allah, mudahkanlah dan berkahilah kami untuk bangun malam guna menegakkan sholat malam sebagai bukti kesetiaan kami kepada Rasul-Mu Nabi Muhammad .

Senin, 29 Oktober 2012

oleh-oleh mario teguh

niatnya hendak menonton televisi, tapi ternyata tidak ada yang bagus. akhirnya bertemu dengan channel metro tv yang menayangkan acara mario teguh. temanya forever young(memperingati hari sumpah pemuda). pas waktu itu mario teguh menjelaskan tentang sesuatu yang pas banget dengan keadaanku sekarang. Gaji dan Penghasilan sama. Tetapi ada yang bekerja keras, dan ada yang santai-santai saja(semaunya). siapakah yang rugi??????Awalnya saya termasuk yang menjawab bahwa yang rugi adalah yang kerja keras. Sampai akhirnya ada penjelasan dari Pak Mario seperti ini. Ketika kita bekerja keras, artinya kita amanah. tetapi ketika kita bersantai artinya kita berkhianat. Saya menafsirkan pengertian amanah dan khianat ini terkait dengan tugas dan tanggung jawab kita serta penghasilan yang kita terima atas tugas dan tanggungjawab tersebut. Janji Allah terhadap orang-orang yang amanah adalah kehidupannya akan baik dan terjaga (bukan dari segi materi saja lho ya).  Meskipun penghasilan kita sama secara materi, namun ada janji dari Sang Pencipta bahwa jika kita amanah Dia akan menjaga kita (apapun bentuk penjagaanNya yang barangkali kita tidak menyadarinya). Dan jika kita sanggup memperoleh predikat amanah tersebut, tentunya itu sesuatu yang tak ternilai buat kita. Itulah keberuntungan-keberuntungan tersendiri buat kita. Dan terhadap orang-orang yang khianat tadi, tentu akan memperoleh sebaliknya.
Jadi, bagaimanapun bentuk penampakan manusia didepan manusia lainnya, Sang Pencipta lebih mengetahui apa yang ada dalam hati mereka. Dan Allah pun memberikan penilaian bukan berdasar penampakan lahiriah manusia, melainkan apa yang ada dalam hati mereka yang tercermin dalam tingkah lakunya.
sebuah motivasi untukku dan teman-teman yang  kadang lelah melihat "reality life" di sekitar kami
 

Selasa, 16 Oktober 2012

hari pertama play group

 kemarin adalah hari pertama Dina masuk play group. kesibukan pagi hari bertambah untuk menyiapkan dina masuk sekolahnya. yang biasanya dia bangun sesuka hatinya, ini harus dibangunin lebih pagi biar sempat minum susu dan mandi. Untuk nyuapin diserahin kepada ummi. dan pagi itu ternyata ayahnya sudah membangunkan dina lebih dulu ketika aku masih sibuk di dapur. and the effect is dina nangis. dihari-hari biasa, memang kalau dina bangun dan bukan bundanya yang disampingnya dia pasti nangis. nah, ini lebih-lebih lagi. Dina belum ingin bangun dah dibangunin dan ayahnya lagi yang diketemukan disampingnya. alhasil sepagi itu sebelum aku berangkat udah lebih dari 2 kali dina nangis. gak pas dikit aj sama yang dia mau, langsung deh menangis.Dan ternyata itu berlangsung seharian.Ekstra kesabaran kalau sudah seperti itu.
di sekolah yang baru pun ternyata anaknya masih harus beradaptasi. dina yang biasanya langsung membaur ternyata masih diam saja dengan teman-teman barunya. pun dengan ibu gurunya. diajak beraktifitas seperti menyanyi dan membaca doa belum mau,  padahal doa-doa itu sudah dihafalnya. di dalam kelas sebentar kemudian keluar main. nah, kalau ini memang tidak perlu diragukan lagi. karena itu kesukaannya, dia sangat menikmati. Bahkan sampai play group selesai dan waktunya pulang, dina tidak mau diajak pulang. Endingnya menangislah sepanjang perjalanan pulang hingga ketemu dengan penjual es krim. Meredalah tangisnya karena dibelikan es krim. (deuuhhh...)
Note :
  • Membangunkan anak harus dengan kasih sayang, hingga hilang rasa malas dan suntuknya karena mood ketika bangun pagi akan terbawa hingga seharian
  • jikalau anak masih mau bermain dan belum bisa tinggal diam lama dikelas, jangan dipaksakan!!! Yang penting dia menyukai. Hal ini penting untuk membentuk persepsi kedepannya tentang sekolah.