Tampilkan postingan dengan label #day10. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #day10. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Juni 2018

Berawal dari Hal kecil

alhamdulillah, kami dikaruniai seorang putri dan seorang putra. Terkait dengan materi menumbuhkan fitrah seksualitas ini, kami mencoba mengajarkan kepada mereka sedari kecil dalam kegiatan sehari-hari yang kelihatannya sepele. Seperti gambar diatas. Pesawat kertas itu adalah pesawat mainan hasil kreativitas ayah dan anak-anak.  Pesawat yang panjang adalah milik mbak D dan pesawat yang lebar adalah milik dek F. Yang istimewa dari mainan tersebut adalah gambar yang dibuat di atas pesawat berbeda dan menjadi pembeda terkait dengan pemiliknya. Gambar di pesawat Mbak D lebih feminin dan punya dek F lebih maskulin. Begitulah kami mempraktekan pendidikan fitrah seksualitas ini kepada anak-anak. Sedari kecil, kami mengajarkan bahwa mereka itu berbeda, mbak D cewek dan dek F cowok. Alhamdulillah, mbak D sudah paham mengenai identitas gendernya. PR besar adalah dek F yang masih rajin bertanya kenapa aku cowok, aku maunya seperti bunda aja dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sejenis( sepertinya karena terlalu dekat dengan Bunda). Kami harus lebih banyak memberikan stimulan Vitamin A untuk dek F.

Selasa, 22 Agustus 2017

Day 10

Tantangan hari ke-10, Selasa 22 Agustus 2017

Alhamdulillah, setelah dua hari sebelumnya proyek menghafal Asmaul Husna belum terlaksana, di hari ke 10 tantangan game 10 hari yang merupakan hari ke-3 pelaksanaan proyek menghafal asmaul husna, proyek ini berjalan dengan menyenangkan. Selesai shalat maghrib, saya mengingatkan Dina akan proyek tersebut. Dina pun bersemangat mengajari saya menghafal Asmaul Husna dengan menyenandungkannya sebagaimana dia diajari disekolah. Ketika saya bersenandung tersebut, Fahmi ternyata ikut-ikutan karena memang dia sudah hafal duluan. Wah...jadi malu nih bundanya. Kemarin, saya berhasil menghafal sebanyak 19  nama-nama Allah dari Ar Rahman hingga As Sami'. Selesai menghafal, saya membacakan buku Asmaul Husna untuk anak-anak. Bukunya warna-warni dan bahasanya pas sekali dengan anak-anak. Disaat saya membuat narasi ini, saya sedang berada dikantor dan lupa judul bukunya. Yang saya bacakan kemarin adalah pengertian dari Ar Rahman. Allah maha Pengasih. Dibuku itu digambarkan bagaimana Allah mengasihi semua makhluknya dengan memberikan banyak sekali kenikmatan. Dan sungguh yang membuat saya bahagia sekali, Fahmi yang biasanya berlarian ke sana kemari mau duduk dipangkuan saya sambil mendengarkan dan melihat-lihat halaman yang saya baca. Alhamdulillah. Semoga ini menjadi awal yang baik bagi keluarga kami dalam membiasakan budaya membaca.

Senin, 24 Juli 2017

Hari ke - 10

Tantangan hari ke 10, Ahad 23 Juli 2017
Hari itu kami berencana menghadiri sebuah acara halal bihalal.  Ayahnya sudah berpesan untuk mempersiapkan anak-anak agar ketika Ayahnya pulang tahsin,  tinggal berangkat. 
Dina setelah shalat subuh tidur lagi. Bangun tidur setelah adeknya bangun sekitar pukul 7 (he.. Hehehe... Hari ahad hari bebas bangun tidur sesukanya). Seperti biasa,  Fahmi ketika bangun tidur butuh jeda waktu untuk turun dari tempat tidur dan beraktivitas.  Dan saya pun harus menemaninya sampai dia bersemangat.
Begitu dah semangat beraktivitas,  saya mengingatkan Fahmi untuk mandi lebih pagi karena kami akan pergi bersama.  Saya tawarkan kepadanya untuk makan,  namun dia belum mau.  Kalau sudah begitu,  biasanya saya lepas dia untuk beraktivitas.  Ketika merasa lapar dan haus,  dia akan mengambil sendiri susu UHTnya dikulkas dan minum sendiri.
Sampai akhirnya kami mandi dan berangkat,  Fahmi tetap belum mau makan.  Kami pun pergi  bersama ke acara halal-bihalal tersebut sekitar pukul 09.00. Disana sebetulnya saya pindah "momong"  karena tidak bisa mengikuti rangkaian acaranya. Fahmi lebih memilih bereksperimen diluar,  berlarian kesana kemari disela-sela mobil yang diparkir. Walaupun tidak harus membuntutinya seperti waktu masih kecil,  saya tetap harus mengawasinya.  Mbak Dina saya tinggal didalam ruangan tempat acara.
Kami pulang sekitar pukul 11.30. Dalam perjalanan pulang,  kami mampir membeli cilok langganan keluarga kami. Sampai dirumah, plastik kresek tempat cilok langsung dibongkar oleh Fahmi. Mbak pengasuh pun langsung menghampiri Fahmi karena waktu itu saya sedang menaruh tas.  Cilok dibagi tiga oleh Mbak.  Piring kecil untuk Fahmi,  Piring besar untuk Dina,  saya dan Mbak.  Disisain satu mangkuk lagi untuk Ayahnya. Piring kecil pun langsung ditaruh didepan Fahmi.  Dengan lahap dia makan cilok tersebut.  Satu persatu dia tusuk,  dicelup ke bumbu walau cuma ujungnya saja.  Ketika kepedasan,  dia ambil minum digelas miliknya.  Berulang-ulang seperti itu,  walau kepedasan,  dia tetap menghabiskan ciloknya sambil minum
Karena sudah kekenyangan makan cilok,  Fahmi belum bersedia ditawari makan besar.  Hingga tidur siang,  dia belum makan nasi.
Sore hari setelah bangun,  Fahmi pun terasa lapar dan minta makan.  Berhubung saya sedang sibuk dengan kakaknya yang sedari siang mengeluh sakit perut,  kebutuhan Fahmi dipegang oleh Mbak Pengasuh.  Dan disitulah saya lupa untuk mengingatkan Mbak tentang latihan kemandirian Fahmi.  Dan akhirnya sampai habis makannya,  Fahmi disuapin oleh Mbak. Deuh... Deuh... Deuuh... 

Minggu, 11 Juni 2017

Minta Maaf Ya Nak!!!

Saya perhatikan,  Fahmi,  anak laki-laki saya ini mempunyai ego yang sangat tinggi.  Seperti malam itu,  Saya sedang mengaji dikamar.  Dina dan Fahmi ikut bermain dikamar.  Dina tidur-tiduran di kasur, Fahmi lompat-lompatan sambil menjatuhkan badannya ke kasur.  Saya sudah mengingatkan Fahmi untuk hati-hati. Jangan sampai dia menginjak atau jatuhin badannya ke mbak dina.  Namanya anak-anak,  diingatkan begitu bilang iya.  Tapi kenyataan berkata sebaliknya.  Fahmi beneran menginjak Dina.  Dina yang kesakitan karena kakinya diinjak langsung menangis. Saya berhenti mengaji. Saya panggil Fahmi dan jelaskan perbuatannya salah menyakiti mbak Dina.  Fahmi harus minta maaf.  Fahmi mencoba mengelak dengan menyebutkan kalau dia hanya mau "A" .  Saya pun berusaha konsisten dan menegakkan keadilan dengan tetap meminta dia minta maaf kepada Dina terlebih dahulu. Sampai beberapa lama,  dia tetap tidak mau meminta maaf.  Saya yang sudah kewalahan memberi pengertian akhirnya minta bantuan Ayahnya setelah menjelaskan duduk perkaranya.  Baru setelah Ayahnya turun tangan,  beberapa waktu kemudian Fahmi mau minta maaf dan selesailah masalah dimalam itu. Meskipun sudah tidak mengandalkan emosi dan nada tinggi,  bahasa menyesuaikan dengan anak umur 3,5 tahun,  namun masih belum berhasil membujuk Fahmi minta maaf.  Barangkali dia lebih faham dengan bahasa Ayahnya yang juga seorang laki-laki. He. . He. . .