Alhamdulillah, setelah dua hari sebelumnya proyek menghafal Asmaul Husna belum terlaksana, di hari ke 10 tantangan game 10 hari yang merupakan hari ke-3 pelaksanaan proyek menghafal asmaul husna, proyek ini berjalan dengan menyenangkan. Selesai shalat maghrib, saya mengingatkan Dina akan proyek tersebut. Dina pun bersemangat mengajari saya menghafal Asmaul Husna dengan menyenandungkannya sebagaimana dia diajari disekolah. Ketika saya bersenandung tersebut, Fahmi ternyata ikut-ikutan karena memang dia sudah hafal duluan. Wah...jadi malu nih bundanya. Kemarin, saya berhasil menghafal sebanyak 19 nama-nama Allah dari Ar Rahman hingga As Sami'. Selesai menghafal, saya membacakan buku Asmaul Husna untuk anak-anak. Bukunya warna-warni dan bahasanya pas sekali dengan anak-anak. Disaat saya membuat narasi ini, saya sedang berada dikantor dan lupa judul bukunya. Yang saya bacakan kemarin adalah pengertian dari Ar Rahman. Allah maha Pengasih. Dibuku itu digambarkan bagaimana Allah mengasihi semua makhluknya dengan memberikan banyak sekali kenikmatan. Dan sungguh yang membuat saya bahagia sekali, Fahmi yang biasanya berlarian ke sana kemari mau duduk dipangkuan saya sambil mendengarkan dan melihat-lihat halaman yang saya baca. Alhamdulillah. Semoga ini menjadi awal yang baik bagi keluarga kami dalam membiasakan budaya membaca.
Tampilkan postingan dengan label #tantangan10hari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #tantangan10hari. Tampilkan semua postingan
Selasa, 22 Agustus 2017
Senin, 21 Agustus 2017
Belajar menghafal dan memahami asmaul husna
Tantangan hari ke-8, Ahad 20 Agustus 2017
Pada awal perencanaan saya sampaikan bahwa durasi proyek evening ceria selama satu bulan dan selebihnya akan dievaluasi. Setelah seminggu berjalan, proyek evening ceria ini saya cukupkan sekian untuk dilaporkan di blog ini sebagai tantangan sepuluh hari my family my team. Hal itu dikarenakan menurut pandangan saya, proyek tersebut sudah cukup kondusif. Yang dimaksud kondusif disini adalah anak-anak dan semua pihak dalam keluarga sudah punya komitmen yang cukup tinggi terhadap pelaksanaan proyek dan dari hasil evaluasi selama ini, tingkat pencapaian proyek sudah diatas 80%. Hanya Fahmi saja yang masih harus dibiasakan untuk bisa lepas dari gadget. Walaupun laporan pelaksanaan diblog sudah berakhir, namun proyek ini akan tetap kami jalankan dalam keluarga karena kami sangat merasakan manfaatnya😍😍😍
Untuk selanjutnya tantangan 10 hari my family my team ini akan saya lanjutkan dengan proyek baru di keluarga kami. Berawal dari beberapa waktu yang lalu ketika saya melihat video kajian yang mengingatkan tentang bagaimana kita bisa mengenal Allah kalau kita tidak tahu sifat-sifat Allah. Saya pun seakan tersadar akan kekhilafan selama ini. Alhamdulillah, disekolah Dina sudah menghafal asmaul husna tinggal menambahkan pemahamannya di rumah. Fahmi, si kecil yang berumur 3,7 tahun pun sudah ikut menyenandungkan ketika Dina menghafal dan senandungnya sering ditayangkan pada waktu itu. Untuk melengkapi pemahaman tentang asmaul husna tadi, dirumah sudah ada buku tentang asmaul husna untuk anak-anak. InsyaAllah proyek ini kami rencanakan untuk dilakukan di rumah. Gambaran proyek ini adalah kami akan menghafal asmaul husna, kemudian belajar memahami artinya dengan membacakan buku asmaul husna yang ada dirumah. Untuk menghafal, yang akan mengajari adalah Dina karena dia yang sudah hafal duluan. dan targetnya adalah bunda yang baru hafal sedikit😅. Fahmi akan diikutsertakan menghafal juga namun tidak ada target khusus. Proyek ini telah saya bicarakan dengan Dina kemarin malam dan dia setuju. Kalau Fahmi, pasti akan mengikuti apa yang kami laksanakan.
Pelaksanaan Perdana proyek menghafal asmaul husna pada hari ahad 20 Agustus 2017
Karena siang harinya kami sibuk dengan arisan keluarga di daerah Otista, Proyek menghafal asmaul husna yang telah kami rencanakan malam sebelumnya belum berjalan. Pagi hari sebelum berangkat, saya sibuk membantu Mbak menyiapkan makanan untuk dibawa ke arisan karena keluarga karena kami mendapat jatah lauk. Sepulang dari arisan, Dina mengeluh capek sekali. Dia hanya berbaring saja di sofa. Petang harinya setelah shalat maghrib, Dina masih mengeluh hal yang sama. Dia hanya berbaring di dekat Ayahnya yang mengaji. Sementara itu, Fahmi minta ditemani main mobil-mobilan diatas. Alhasil, saya pun lupa.hiks..hiks...
Senin, 24 Juli 2017
Hari ke - 10
Tantangan hari ke 10, Ahad 23 Juli 2017
Hari itu kami berencana menghadiri sebuah acara halal bihalal. Ayahnya sudah berpesan untuk mempersiapkan anak-anak agar ketika Ayahnya pulang tahsin, tinggal berangkat.
Dina setelah shalat subuh tidur lagi. Bangun tidur setelah adeknya bangun sekitar pukul 7 (he.. Hehehe... Hari ahad hari bebas bangun tidur sesukanya). Seperti biasa, Fahmi ketika bangun tidur butuh jeda waktu untuk turun dari tempat tidur dan beraktivitas. Dan saya pun harus menemaninya sampai dia bersemangat.
Begitu dah semangat beraktivitas, saya mengingatkan Fahmi untuk mandi lebih pagi karena kami akan pergi bersama. Saya tawarkan kepadanya untuk makan, namun dia belum mau. Kalau sudah begitu, biasanya saya lepas dia untuk beraktivitas. Ketika merasa lapar dan haus, dia akan mengambil sendiri susu UHTnya dikulkas dan minum sendiri.
Sampai akhirnya kami mandi dan berangkat, Fahmi tetap belum mau makan. Kami pun pergi bersama ke acara halal-bihalal tersebut sekitar pukul 09.00. Disana sebetulnya saya pindah "momong" karena tidak bisa mengikuti rangkaian acaranya. Fahmi lebih memilih bereksperimen diluar, berlarian kesana kemari disela-sela mobil yang diparkir. Walaupun tidak harus membuntutinya seperti waktu masih kecil, saya tetap harus mengawasinya. Mbak Dina saya tinggal didalam ruangan tempat acara.
Kami pulang sekitar pukul 11.30. Dalam perjalanan pulang, kami mampir membeli cilok langganan keluarga kami. Sampai dirumah, plastik kresek tempat cilok langsung dibongkar oleh Fahmi. Mbak pengasuh pun langsung menghampiri Fahmi karena waktu itu saya sedang menaruh tas. Cilok dibagi tiga oleh Mbak. Piring kecil untuk Fahmi, Piring besar untuk Dina, saya dan Mbak. Disisain satu mangkuk lagi untuk Ayahnya. Piring kecil pun langsung ditaruh didepan Fahmi. Dengan lahap dia makan cilok tersebut. Satu persatu dia tusuk, dicelup ke bumbu walau cuma ujungnya saja. Ketika kepedasan, dia ambil minum digelas miliknya. Berulang-ulang seperti itu, walau kepedasan, dia tetap menghabiskan ciloknya sambil minum
Karena sudah kekenyangan makan cilok, Fahmi belum bersedia ditawari makan besar. Hingga tidur siang, dia belum makan nasi.
Sore hari setelah bangun, Fahmi pun terasa lapar dan minta makan. Berhubung saya sedang sibuk dengan kakaknya yang sedari siang mengeluh sakit perut, kebutuhan Fahmi dipegang oleh Mbak Pengasuh. Dan disitulah saya lupa untuk mengingatkan Mbak tentang latihan kemandirian Fahmi. Dan akhirnya sampai habis makannya, Fahmi disuapin oleh Mbak. Deuh... Deuh... Deuuh...
Begitu dah semangat beraktivitas, saya mengingatkan Fahmi untuk mandi lebih pagi karena kami akan pergi bersama. Saya tawarkan kepadanya untuk makan, namun dia belum mau. Kalau sudah begitu, biasanya saya lepas dia untuk beraktivitas. Ketika merasa lapar dan haus, dia akan mengambil sendiri susu UHTnya dikulkas dan minum sendiri.
Sampai akhirnya kami mandi dan berangkat, Fahmi tetap belum mau makan. Kami pun pergi bersama ke acara halal-bihalal tersebut sekitar pukul 09.00. Disana sebetulnya saya pindah "momong" karena tidak bisa mengikuti rangkaian acaranya. Fahmi lebih memilih bereksperimen diluar, berlarian kesana kemari disela-sela mobil yang diparkir. Walaupun tidak harus membuntutinya seperti waktu masih kecil, saya tetap harus mengawasinya. Mbak Dina saya tinggal didalam ruangan tempat acara.
Kami pulang sekitar pukul 11.30. Dalam perjalanan pulang, kami mampir membeli cilok langganan keluarga kami. Sampai dirumah, plastik kresek tempat cilok langsung dibongkar oleh Fahmi. Mbak pengasuh pun langsung menghampiri Fahmi karena waktu itu saya sedang menaruh tas. Cilok dibagi tiga oleh Mbak. Piring kecil untuk Fahmi, Piring besar untuk Dina, saya dan Mbak. Disisain satu mangkuk lagi untuk Ayahnya. Piring kecil pun langsung ditaruh didepan Fahmi. Dengan lahap dia makan cilok tersebut. Satu persatu dia tusuk, dicelup ke bumbu walau cuma ujungnya saja. Ketika kepedasan, dia ambil minum digelas miliknya. Berulang-ulang seperti itu, walau kepedasan, dia tetap menghabiskan ciloknya sambil minum
Karena sudah kekenyangan makan cilok, Fahmi belum bersedia ditawari makan besar. Hingga tidur siang, dia belum makan nasi.
Sore hari setelah bangun, Fahmi pun terasa lapar dan minta makan. Berhubung saya sedang sibuk dengan kakaknya yang sedari siang mengeluh sakit perut, kebutuhan Fahmi dipegang oleh Mbak Pengasuh. Dan disitulah saya lupa untuk mengingatkan Mbak tentang latihan kemandirian Fahmi. Dan akhirnya sampai habis makannya, Fahmi disuapin oleh Mbak. Deuh... Deuh... Deuuh...
Minggu, 23 Juli 2017
Amazing
Tantangan hari ke-9 Sabtu, 22 Juli 2017
Masih seputar melatih kemandirian si kecil untuk makan sendiri. Hari itu jadwal saya kuliah. Sebelum berangkat saya usahakan si kecil sarapan dulu. Terkadang dia belum mau, hari itu saya sedikit paksakan karena malam sebelumnya dia tidak makan malam.
Sarapan pagi biasanya nyari yang simple. Nasi plus ceplok telur atau nugget(he..he...jangan ditiru yang ini). Anak-anak masih malas makan sayur kalau pagi. Alternatif yang saya berikan, di kulkas pasti ada jus.
Setelah saya ambilkan nasi dan lauk untuk Fahmi, saya bujuk dia untuk makan sendiri. Dengan berbagai bujukan dan motivasi masih nggak mempan juga. Terpaksa saya suapin juga. Saya menyerah karena dikejar waktu harus segera berangkat kuliah.
Belum selesai saya nyuapin, ada kebutuhan untuk BAB. Saya pun pamit kepada Fahmi untuk ke kamar mandi. Setelah menyelesaikan hajat, saya kembali kepada Fahmi untuk meneruskan makannya. Dan ternyata makanannya sudah habis. Saya bertanya ke mbak Dina, apakah dia nyuapin Fahmi. Dina bilang tidak. Sementara itu Mbak Pengasuh sedang mencuci dikamar mandi. Berarti Fahmi menyelesaikan sendiri makannya. Surprise banget. Alhamdulillah.
Hikmah yang bisa saya ambil, sebenarnya anak-anak itu "amazing". Kewajiban orang tua untuk mendidik dan mengarahkan agar anak semakin berkembang dengan "amazing" nya tersebut menuju kesolehannya.
Sabtu, 22 Juli 2017
Tentang si kecil
Tantangan hari ke-8, Jumat 21 juli 2017
Sudah seminggu saya melatih kemandirian mbak Dina. Putri sulung saya. Kini saatnya saya beralih kepada Fahmi, putra saya yang nomor dua. Meskipun tidak dinarasikan disini, tantangan kemandirian kepada mbak dina tetap berlanjut.
Tentang si kecil Fahmi, dia sekarang berusia 3 tahun 7 bulan. Alhamdulillah sejak dua tahun sudah tidak pakai pampers kecuali kalau pergi-pergi saja. Dan usia tiga tahun, toilet traininingnya sudah berhasil. Dia lepas pampers sama sekali. Dan untuk BAB BAK langsung ke kamar mandi.
Ditantangan kemandirian ini saya ingin melatih Fahmi untuk makan sendiri. Bukannya dia tidak bisa, kadang keasyikan main atau rasa malasnya timbul. He.. He... (niru ibunya ini).
Hari itu, sy mendapat laporan dari mbak. Makan pagi masih minta disuapin. Akan tetapi makan siang, sudah mau makan sendiri. Malamnya Fahmi tidak makan besar. Dia biasa ngemil entah itu susu, kue, jus atau yang lainnya. Dan ketika sudah merasa kenyang, dia tidak makan berat lagi.
Bagi saya, melatih kemandirian untuk Fahmi lebih menantang. Sifatnya jauh beda dengan kakaknya. Dia cenderung lebih ngeyel dan "kekeh" terhadap kemauannya. Kalau sekali bilang tidak, dia tidak akan mau melaksanakan yang kami minta. Dibujuk atau diimingi sesuatu pun tidak mempan untuknya. Yach, smoga sifat ini akan membawamu menjadi seseorang yang teguh memegang agamamu ketika kau besar nanti ya nak!!!
Bagi saya, melatih kemandirian untuk Fahmi lebih menantang. Sifatnya jauh beda dengan kakaknya. Dia cenderung lebih ngeyel dan "kekeh" terhadap kemauannya. Kalau sekali bilang tidak, dia tidak akan mau melaksanakan yang kami minta. Dibujuk atau diimingi sesuatu pun tidak mempan untuknya. Yach, smoga sifat ini akan membawamu menjadi seseorang yang teguh memegang agamamu ketika kau besar nanti ya nak!!!
Kamis, 20 Juli 2017
Ibrah selama 7 hari
Tantangan hari ke-7, Kamis, 20 Juli 2017
Hari ini adalah hari terakhir tantangan kemandirian untuk sesi rapi-merapikan. Pada hari tersebut, merapikan mukena, menaruh dan mencuci piring bekas makan serta merapikan mainan sudah dilaksanakan. Namun, tempat makan snack yang dari sekolah masih tetap ditaasnya. Hu... Hu....
Beberapa catatan penting selama satu minggu ini saya rangkum sebagai berikut :
1. Dari segi emosi, mbak dina sudah lebih tertata. Ketika dia lupa melaksanakan tugasnya, dengan diingatkan dia akan jalan dan tidak marah-marah lagi seperti sebelumnya-sebelumnya. Sambil terus diingatkan dan dimotivasi, seiring usia yang semakin bertambah, saya yakin mbak dina akan lebih terampil.
2. Sebagai ibu, kita tidak boleh letih dan menyerah untuk terus mengingatkan dan menyemangati. Jangankan untuk seumuran anak-anak kita, kita sendiri yang orang dewasa kadang malas nelakukan hal-hal tersebut(atau ini saya aja ya? He.. He.. He...). Disitulah pentingnya istiqomah sebagaimana yang pernah saya tulis sebelumnya
3. Ibu harus pandai mencari moment-moment terbaik untuk memberikan nasehat kepada anaknya agar lebih mengena dan dipahami.
Rabu, 19 Juli 2017
Tentang istiqomah
Tantangan hari ke-6 Rabu, 20 Juli 2017
Masih terngiang beberapa tahun yang lalu, ustadzah menjelaskan tentang materi istiqomah. Begitu beratnya istiqomah karena perbuatan itu menuntut adanya konsekuensi yang terus menerus dan tidak pernah putus.
Materi tentang istiqomah ini sangat tepat diaplikasikan dalam menjalani tantangan game dibunda sayang ini.
Pagi hari selesai shalat, mukena sudah dilipat. Namun untuk menaruh ditempat semula, masih harus diingatkan. Kemudian selesai makan, piring sudah dibawa ke tempat cuci piring dan langsung dicuci saat itu juga. Akan tetapi tempat snack ke sekolah masih ditas, dan saya panggil mbak Dina dan menemaninya mencucinya.
Shalat maghrib dan isya, melipat mukena sudah dilaksanakan. Yang masih harus terus didampingi dan diingatkan adalah menaruhnya ditempat semula.
Menemani Mbak Dina berkreasi dengan Kapla dipetang harinya. Sembari mengingatkan juga tuk membereskan kembali setelah selesai. Dan alhamdulillah, puas berkreasi, dia membereskan mainan kaplanya. Sambil tetap ditemani dan diberikan motivasi.
Sebagai seorang ibu, kita harus senantiasa istiqomah dalam menjalani peran tersebut. Istiqomah menahan amarah dan kesal melihat buah hati yang kadang muncul "kepintarannya". Istiqomah menemani dan mengingatkan ananda dalam menjalani aktivitas kesehariannya menuju proses kemandiriannya. Istiqomah dalam berperilaku dan berakhlaq mulia dalam rangka menjadi contoh yang terbaik bagi putra-putri tercinta.
Materi tentang istiqomah ini sangat tepat diaplikasikan dalam menjalani tantangan game dibunda sayang ini.
Pagi hari selesai shalat, mukena sudah dilipat. Namun untuk menaruh ditempat semula, masih harus diingatkan. Kemudian selesai makan, piring sudah dibawa ke tempat cuci piring dan langsung dicuci saat itu juga. Akan tetapi tempat snack ke sekolah masih ditas, dan saya panggil mbak Dina dan menemaninya mencucinya.
Shalat maghrib dan isya, melipat mukena sudah dilaksanakan. Yang masih harus terus didampingi dan diingatkan adalah menaruhnya ditempat semula.
Menemani Mbak Dina berkreasi dengan Kapla dipetang harinya. Sembari mengingatkan juga tuk membereskan kembali setelah selesai. Dan alhamdulillah, puas berkreasi, dia membereskan mainan kaplanya. Sambil tetap ditemani dan diberikan motivasi.
Sebagai seorang ibu, kita harus senantiasa istiqomah dalam menjalani peran tersebut. Istiqomah menahan amarah dan kesal melihat buah hati yang kadang muncul "kepintarannya". Istiqomah menemani dan mengingatkan ananda dalam menjalani aktivitas kesehariannya menuju proses kemandiriannya. Istiqomah dalam berperilaku dan berakhlaq mulia dalam rangka menjadi contoh yang terbaik bagi putra-putri tercinta.
Selasa, 18 Juli 2017
Pernak-pernik tantangan
Tantangan hari ke-5 Selasa, 18 Juli 2017
Berhubung target kemandirian merapikan buku yang dibaca sering tidak terlaksana karena berbagai alasan, mulai hari ke-5 saya memperluas cakupan tantangan kemandirian untuk mbak Dina. Masih seputar rapi-merapikan. Dihari ini, tidak hanya merapikan buku saja, ditambah dengan merapikan mainan, merapikan mukena setelah shalat dan merapikan bekas makan. Merapikan bekas makan dalam hal ini meliputi menaruh tempat makan sekaligus mencucinya hingga bersih.
Pagi itu, setelah makan saya ingatkan mbak dina untuk merapikan bekas makanannya. Alhamdulillah dia bergerak dan melakukannya tanpa ada "sungut" di muka. Namun, siangnya dia lupa menaruh dan mencuci tempat snack sepulang dari sekolah, padahal sudah diingatkan mbak pengasuh. PE-ER lagi bagi kami
Sebelum berangkat kuliah malam saya lihat dia bermain kapla. Kapla adalah mainan dari kayu berbentuk balok-balok kecil yang bisa disusun sesuai dengan kreatifitas anak. Hampir tiap hari Dina memainkannya. Disitulah banyak sekali kreasinya. Ada istana putri, ada mobil-mobilan permintaan adeknya, ada prototipe rumah kecil lengkap dengan taman bermainnya. Terkadang saya kagum juga dengan ide-idenya. Namun yang sering jadi masalah kl sudah selesai dibiarkanlah mainan itu berantakan. Ujung-ujungnya mbaknya yang merapikan. Malam itu saya ingatkan kembali Dina untuk merapikan mainan kaplanya. Juga mukenanya setelah selesai shalat
Pulang kuliah saya cek kembali kondisi rumah. Mainan kapla sudah ditata kembali ditempatnya kecuali yang digunakan untuk membuat kreasinya. Biasanya tak boleh dirapikan sampai beberapa hari kemudian. Mukena pun sudah dilipst, tapi cuma ditaruh disofa depan televisi. It's OK nak. Bunda sudah senang engkau mulai terbiasa dengan latihanmu itu. Bunda kan sabar mengingatkanmu tuk konsisten dengan latihan-latihan kemandirianmu. Love u... M... M... Muahh..
Senin, 17 Juli 2017
Hari ke-empat
Tantangan hari ke-empat Senin, 17 Juli 2017
Sepulang kerja, saya tak melihat buku berserakan. Hi.. Hi... Ada dua kemungkinan. Sudah dibereskan atau Dina tak membaca buku sama sekali. Hari itu, saya lupa tidak memberikan pesan baik kepada Dina maupun Mbak Pengasuhnya.
Ketika saya tanyakan kepada Dina apakah seharian ini dia baca buku atau tidak. Ternyata jawabannya memang tidak. "Aku kan mengerjakan tugas bun", begitu kata Dina. Karena hari Selasa adalah hari pertama masuk sekolah, Dina menyelesaikan tugas membuat diary selama liburan yang selama ini belum dia kerjakan. Meski saya cek buku diary, ternyata hanya menuliskan catatan diary untuk satu hari saja. Namun saya bersyukur, dia sudah berinisiatif untuk mengerjakan tugasnya tanpa harus disuruh-suruh.
Nah, saya bingungnya narasi tantangan seperti apa yang harus saya tuliskan karena hari itu dina sama sekali tidak menyentuh buku-bukunya.
Kalau bentuk kemandirian Dina yang lain yang saya rekam hari itu Dina sudah mempersiapkan sendiri perlengkapan sekolahnya untuk esok pagi. Sebelum tidur, Dia memasukkan semua perlengkapan sekolahnya ke dalam tasnya. Baru kemudian dia gosok gigi dan tidur. Love mbak Dina deh.
Dan untuk hari-hari berikutnya saya akan mengubah tantangan kemandirian Dina. Karena sudah masuk sekolah dan kemungkinan waktunya habis disekolah, sehingga aktivitas membaca buku dirumah mungkin juga berkurang.
Minggu, 16 Juli 2017
Tentang apa ya?
Hari ketiga pelaksanaan game kemandirian. Ahad, 16 Juli 2017.
Hari ini kami banyak beraktivitas diluar rumah. Kami pergi berenang ke taman indraloka. Kami berangkat dari rumah pukul 09.30. Agak siang memang. Hal tersebut dikarenakan kami harus menunggu Ayah pulang dari kegiatan tahsin. Sebelum berangkat, Dina lebih suka menonton fillm kartun dora emon kesayangannya. Otomatis, dia tidak menyentuh buku-bukunya sama sekali.
Pulang dari berenang pukul setengah dua siang, dilanjutkan dengan makan siang dirumah dan shalat. Setelah itu saya berbaring sebentar(bukan tidur lho ya). sementara itu dina asik bermain bersama adeknya. Anak-anak memang energinya luar biasa, tak mengenal kata capek. Setelah shalat ashar, Dina dan adeknya malah bermain diluar dengan teman-temannya hingga jam 5 sore.
Seharian Dina sama sekali tak menyentuh buku-buku yang biasanya walau cuma satu buah dia baca. Saya pun agak kebingungan ketika harus menuliskan progres tantangan dihari ketiga ini.
Namun beberapa hal yang saya amati terkait dengan hal rapi-merapikan. Hari ini, Dina mengembalikan kembali tasnya ditempat semula setelah dia mengambil buku Ummi dari dalam tasnya. Kemudian, ketika diingatkan tentang handuk yang masih berada didalam kanar setelah dia mandi, dia langsung bergerak menaruh ditempat jemuran, tidak pake ngambek dulu. Akan tetapi untuk masalah mukena, dia masih meletakkanya ditempat dimana dia shalat. Meski sudah mau melipat dan merapikan, namun masih sering lupa mengembalikan ke tempat mukena yang seharusnya. Mungkin ini yang akan saya jadikan sebagai tantangan dalam melatih kemandiriannya untuk hari-hari selanjutnya.
Sabtu, 15 Juli 2017
Kejutan yang indah
Hari kedua pelaksanaan game kemandirian yaitu Sabtu, 15 Juli 2017.
Selesai shalat subuh, saya mengingatkan Dina. "Mbak Dina lupa ya semalam? Kok buku-bukunya masih diatas sofa?".
Dina pun menjawab, "iya bun. Dina langsung tidur.Tapi memang mengapa sih bun, harus dirapiin? Ntar kan dibaca lagi? " Ternyata memberi pengertian kepada anak pentingnya melakukan suatu pekerjaan itu harus terus menerus ya. Tidak bisa cuma sekali dua kali. Padahal intinya sih sama. Saya pun menjelaskan kembali kepada Dina pentingnya merapikan buku ataupun barangnya yang lain, misalnya mainan.
Dan pagi harinya saya terkejut. Setelah sarapan bubur, Dina membereskan kembali buku bacaannya yang masih berserakan diatas sofa. Dia kembalikan ke tempat semula sesuai dengan urutannya. Alhamdulillah segala puji untukmu ya Rabb.
Jumat, 14 Juli 2017
Jangan pernah lelah
Sebenarnya tantangan kemandirian ini sudah saya laksanakan sejak tgl 13 juli kemarin. Namun berhubung sy sudah memutuskan untuk memulainya dihari ini, maka dokumentasi sy mulai dari hari ini,jumat 14 Juli 2017.
Untuk si sulung, mbak Dina (8th) saya memilih mengajarkan kemandirian dalam bentuk merapikan kembali buku yang sudah dia baca. Mungkin ini sangat terlambat, karena selama ini kami memanjakannya dan jarang melibatkan dia dalam proses pengurusan domestik rumah tangga. Terimakasih IIP yang mengajarkan saya tuk mengoreksi kesalahan pengasuhan dimasa yang telah lewat.
Untuk si sulung, mbak Dina (8th) saya memilih mengajarkan kemandirian dalam bentuk merapikan kembali buku yang sudah dia baca. Mungkin ini sangat terlambat, karena selama ini kami memanjakannya dan jarang melibatkan dia dalam proses pengurusan domestik rumah tangga. Terimakasih IIP yang mengajarkan saya tuk mengoreksi kesalahan pengasuhan dimasa yang telah lewat.
Alhamdulillah dirumah, saya menyediakan koleksi buku yang cukup banyak untuk menumbuhkan minat bacanya. Meski kadang masih kalah bersaing dengan televisi, namun saya mencoba untuk terus memupuk semangat Dina membaca buku. Bagi saya agak susah menerapkan teori satu buku selesai, kembalikan, baru boleh ambil buku yang lain. Hal itu karena saya tidak mengawasi langsung ketika saya bekerja. Sementara itu, mbak pengasuh lebih suka merapikan sendiri daripada melibatkan dina. Alhasil, saya pun memodifikasi tantangan tersebut. Ketika saya pulang, saya ingatkan Mbak Dina untuk merapikan semua buku yang dia baca. Batas waktunya sampai dia aakan tidur. Malam sebelumnya, tantangan tersebut berhasil dilaksanakan. Sehabis shalat isya, saya ingatkan Dina untuk merapikan bukunya. Meskipun tetap dengan bantuan dari saya, karena bukunya lumayan berat, dia bersedia merapikan kembali buku tersebut sesuai dengan urutannya. Naamun, malam ini...jreng...jreng..jreng. Saya sampai rumah pukul 21.00 sepulang dari kuliah malam. Anak-anak sudah tidur dan saya lihat, buku masih menumpuk di sofa. Itu artinya Mbak Dina tidak mengembalikan buku tersebut dan merapikannnya ditempat semula. Belum berhasil dihari pertama. Barangkali Mbak pengasuh juga lupa untuk mengingatkannya. Tidaklah perlu sesal dan lara, karena bagi saya itu menjadi sebuah tanda. Saya sebagai Bundanya yang paling bertanggung jawab akan itu semua. Untuk tak pernah jemu dan lelah membimbing dina. Melangkahkan kaki setapak demi setapak melewati tangga menuju kemandiriannya.
Rabu, 14 Juni 2017
Belajar dengan bermain
Day 11 pelaksanaan game komunikasi produktif. Hari ahad tersebut, saya menghabiskan waktu bertiga dengan anak-anak. Berfikir bagaimana caranya biar mereka tidak meminta hp untuk dimainkan. Akhirnya tercetus ide untuk main petak umpet dirumah. Walau tempat sembunyi cukup terbatas, permainan yang kami lakukan berlangsung cukup menyenangkan. Sesekali diselingi teriakan Dina yang agak marah karena Fahmi tidak mau jaga. Namun dengan pendekatan baik-baik, dia bisa mengerti kalau adiknya belum begitu ngerti permainana tersebut. Alhasil, saya juga yang kebanyakan jaga menggantikan Fahmi
Setelah main petak umpet selesai, saya ajak anak-anak bermain congklak. Seperti permainan sebelumnya, Fahmi lebih banyak ngrecokin daripada ikut main. Biji congklak diambil, kemudian ditaruh disembarang tempat yang dia mau. Hem. . . . berfikir. . . lagi. Dina sudah agak senewen. Sy sampai harus sering mengingatkan dia untuk sabar menghadapi kelakuan adiknya (padahal itu jg sebuabh pengingatan untuk diri saya sendiri). Dengan tipikal Fahni yang iseng, Dina pasti bisa tambah marah kalau terus direcokin. Begitu juga dengan saya, agak takut kalau kelepasan emosi. Akhirnya saya cari ide lain. Ketika giliran Dina bermain, saya ajak Fahmi main batu gunting kertas. Begitu pula sebaliknya, ketika giliran saya bermain, Dina yang mengajak Fahmi bermain gunting batu kertas. Permainan congklak kami aman, Fahmi pun merasa dilibatkan.
Minggu, 11 Juni 2017
Minta Maaf Ya Nak!!!
Saya perhatikan, Fahmi, anak laki-laki saya ini mempunyai ego yang sangat tinggi. Seperti malam itu, Saya sedang mengaji dikamar. Dina dan Fahmi ikut bermain dikamar. Dina tidur-tiduran di kasur, Fahmi lompat-lompatan sambil menjatuhkan badannya ke kasur. Saya sudah mengingatkan Fahmi untuk hati-hati. Jangan sampai dia menginjak atau jatuhin badannya ke mbak dina. Namanya anak-anak, diingatkan begitu bilang iya. Tapi kenyataan berkata sebaliknya. Fahmi beneran menginjak Dina. Dina yang kesakitan karena kakinya diinjak langsung menangis. Saya berhenti mengaji. Saya panggil Fahmi dan jelaskan perbuatannya salah menyakiti mbak Dina. Fahmi harus minta maaf. Fahmi mencoba mengelak dengan menyebutkan kalau dia hanya mau "A" . Saya pun berusaha konsisten dan menegakkan keadilan dengan tetap meminta dia minta maaf kepada Dina terlebih dahulu. Sampai beberapa lama, dia tetap tidak mau meminta maaf. Saya yang sudah kewalahan memberi pengertian akhirnya minta bantuan Ayahnya setelah menjelaskan duduk perkaranya. Baru setelah Ayahnya turun tangan, beberapa waktu kemudian Fahmi mau minta maaf dan selesailah masalah dimalam itu. Meskipun sudah tidak mengandalkan emosi dan nada tinggi, bahasa menyesuaikan dengan anak umur 3,5 tahun, namun masih belum berhasil membujuk Fahmi minta maaf. Barangkali dia lebih faham dengan bahasa Ayahnya yang juga seorang laki-laki. He. . He. . .
Sabtu, 10 Juni 2017
Ngedate dengan Dina
Sore itu saya pergi berdua saja dengan dina ke Lippo Kramat Jati. Dina harus memakai rok jeans untuk acara sekolahnya. Kami harus membeli yang baru karena roknya hilang ketika outbond
Kami langsung menuju matahari. Dan langsung menuju ke counter busana anak-anak. Kami berkeliling mencari mana yang paling sesuai untuk Dina. Seperti biasa, Dina yang sangat suka dengan baju-baju cantik model "princes" langsung minta dibeliin. Padahal kalau lihat harganya, bunda yang pusing. He. . He. . . He. . . Saya pun beri pemahaman ke Dina tujuan kami ke sini untuk membeli rok jeans, tentang harga baju model princess yang "menguras kantong" serta fungsi bajunya. Dina sudah umur 8 tahun dan sudah tidak cocok lagi mengenakan baju seperti itu. Meski dengan sedikit cemberut, Dina tidak memaksakan kehendaknya untuk membeli baju tersebut. Aman dan tenanglah "kantong" bunda(he..he..he)
Memukul Adik
Malam itu saya sedang shalat tarawih. Dina yang sudah selesai duluan shalat tarawihnya tiba-tiba memukul tangan adiknya. Pukulan pertama adiknya belum ngeh. Pukulan kedua adiknya diam. Pukulan ketiga adiknya baru bertanya kenapa. Melihat kejadian itu shalat tarawih sy sedikit terganggu karena mereka berdua persis duduk didepan saya shalat . Hem. . . Mau membatalkan shalat tarawih nanggung, sy terusin deh shalatnya dengan tetap mendengar pembicaraan mereka berdua(he...he...ketahuan nih shalatnya tidak khusu') .
Kejadian selanjutnya Dina pun menjelaskan alasannya memukul fahmi. Dan entah apa lagi yang terjadi waktu itu karena saya memutuskan untuk tetap melanjutkan shalat tarawih sampai selesai. Selesai shalat tarawih, saya melihat mereka berdua sudah baikan dan sudah main bersama kembali. Namun, saya merasa perlu mengingatkan dina tentang perilakunya tersebut.
Menjelang tidur, saya ajak Dina berbicara. "Nak, kenapa memukul adek? ". " Kakiku sakit Bun. Kena lakban yang adek mainin. ", jawab Dina. Memang waktu itu adiknya bermain lakban dengan cara digelindingin ke segala arah. Mungkin Dina kena secara tak sengaja. Disitu, saya mencoba memberikan Dina pemahaman dengan bahasa sederhana boleh tidaknya dia melakukan hal tersebut . Mencontohkan seandainya dina yang melakukan hal tersebut kepada bunda tanpa disengaja, kemudian bunda langsung memukul dina, Dina sedih nggak? ? ? Alhamdulillah Dina bisa mengerti .
Kamis, 08 Juni 2017
Tidur ya Nak!!!
Pukul 22.00 saya sampai dirumah sepulang dari kuliah malam. Fahmi belum tidur, malah minta makan. Melihat saya datang, dia tidak mau disuapin Mbak Pengasuh. Saya pun menyuapinya. Baru beberapa suap dia minta ke kamar bobok. Itupun tidak langsung tidur. Masih bolak-balik saja keluar kamar mengambil mainan mobil-mobilannya. Inilah titik-titik kritis emosi saya di malam hari. Ketika mata sudah tidak kuat melek, Fahmi belum mau tidur juga. Selesai menata mobilannya dikamar, dia minta mainan pesawat(kami biasa main terbang-terbangan pesawat). Saya mengajukan syarat boleh main pesawat tapi hanya sekali karena hari sudah malam. Awalnya dia tidak mau. Setelah saya tidak bergeming, dia pun menurut. Saya kira dia sudah mau tidur, ternyata tidak. Masih saja bermain mainan yang lain. Sepertinya Fahmi belum akan tidur. Saya pun memutuskan shalat isya dan tarawih terlebih dahulu setelah minta ijin kepada Fahmi. Selama saya shalat, dia saya perbolehkan tidur duluan (ngarep.com). Fahmi menunggu saya selesai shalat. Dia tiduran sambil mengamati mobilnya dengan tenang. Selesai saya shalat, saya ajak dia tidur. Alhamdulillah, malam ini berlalu dengan tenang.
Rabu, 07 Juni 2017
Bukan sekedar melipat mukena
Selepas shalat maghrib, dina melipat mukena ala kadarnya. Antara dilipat atau tidak sama saja. Setelah itu, dia tinggal pergi ke kamar. Selesai berdoa, saya melihat lipatan mukenanya. Wah, ini mah namanya bukan melipat. Padahal sudah berulangkali saya mengajari dan mengingatkannya untuk melipat mukena dengan baik. Saya berfikir daripada ngomel nggak jelas, dicoba lah komunikasi produktif. Dimulai dari pengendalian emosi untuk tidak ngomel. Saya panggil dia dengan nada yang ramah. “Mbak Dina, tolong ke sini dong!” Dina kemudian menghampiri saya. “Ada apa Bun?” Mbak Dina kan sudah bunda ajari melipat mukena dengan baik. Hayo diperbaiki lipatan mukenanya!” Malas ah bun, yang penting sudah dilipat. Memang kenapa harus dilipat rapi?bla...bla...bla...sederet argumennya keluar semua (ngeyel kayak saya.hi.hi...). Sesi tersebut diakhiri dengan mengulang lipatan mukena hingga tampak seperti difoto. Itupun terjadi setelah kami diskusi panjang lebar dan saya jelaskan alasan dan hikmah mengapa harus seperti itu. Satu momen saja beberapa tantangan game komunikasi produktif bisa tercapai. Pengendalian emosi, Intonasi Ramah dan sharing hikmah. Alhamdulillah.
Fotonya gak bisa diupload. Maaf
Selasa, 06 Juni 2017
Tantangan yang hebat
Memasuki hari ke lima tantangan dalam game level ini. Wah, jadi malu nih. Baru saja kemarin berazam untuk sebisa mungkin mengontrol emosi. Hari ini saya gagal lagi. Karena esok harinya ujian, sy bertanya kepada mbak dina. "kapan mau belajar. Terjadilah tawar menawar diantara kami hingga tercapai kesepakatan bahwa belajar akan dimulai setelah dia menonton film kesukaannya dan mandi.
Setelah film selesai, sy mengingatkan kesepakatan kami. Akan tetapi dina pun tak beranjak untuk mandi (barangkali saya kurang menerapkan KISS). Saya mengurusi adeknya terlebih dahulu. Ketika saya masih dikamar mengurusi adeknya , dina sempat marah dan melempar mainannya hingga bunyi "glonthangan". Disitulah emosi sy terpancing. Setelah peristiwa tersebut, sy minta tolong suami untuk menghandle dina karena sy masih takut terbawa emosi. Sore harinya setelah shalat maghrib saya ajak dina untuk berbincang sebentar. Saya minta maaf kemudian mengajak dia berbincang tentang kejadian hari itu(mencoba menerapkan point sharing pengalaman dan memgatakan apa yang diinginkan)
Setelah film selesai, sy mengingatkan kesepakatan kami. Akan tetapi dina pun tak beranjak untuk mandi (barangkali saya kurang menerapkan KISS). Saya mengurusi adeknya terlebih dahulu. Ketika saya masih dikamar mengurusi adeknya , dina sempat marah dan melempar mainannya hingga bunyi "glonthangan". Disitulah emosi sy terpancing. Setelah peristiwa tersebut, sy minta tolong suami untuk menghandle dina karena sy masih takut terbawa emosi. Sore harinya setelah shalat maghrib saya ajak dina untuk berbincang sebentar. Saya minta maaf kemudian mengajak dia berbincang tentang kejadian hari itu(mencoba menerapkan point sharing pengalaman dan memgatakan apa yang diinginkan)
Sabtu, 03 Juni 2017
Hari keempat
Seperti biasa, bangun tidur merupakan saat-saat sensitif untuk fahmi. Ketika dia terjaga, dipanggillah bunda tuk menemani masa-masa peralihan dari bangun tidur. Bunda pun harus segera memenuhi panggilannya dan menemaninya sampai dia betul-betul siap dan mau turun dari tempat tidur. Dan disaat itu pintu kamar harus ditutup dan tidak boleh ada orang lain yang ikut masuk. Kebetulan Dina sedang sendiri diruang keluarga . Dia pengin masuk kamar, namun tidak diperbolehkan Fahmi. Walau masuk kamar dengan ngumpet-ngumpet di belakang saya, begitu Fahmi tahu, Fahmi tambah teriak-teriak gak ngebolehin. Pada akhirnya saya minta dengan baik-baik supaya Dina tinggal diluar kamar dulu sampai Adiknya hilang badmoodnya.
Saya kira masalah tersebut sudah selesai . Ternyata Dina masih menyimpan lara didadanya. Ketika saya mau berangkat kuliah, dia protes. Bunda lebih sayang pada Fahmi. Bunda lebih perhatiin Fahmi. Deg. . . . dalam hati saya kaget. Diwaktu kritis seperti ini disaat sy mau berangkat kuliah, malah putri kecilku bicara seperti itu. Saya pun menunda keberangkatan. Saya selami hati dan perasaannya. Ada apakah dengan dirinya. Mengapa dia berkata seperti itu. Mengalirlah cerita darinya tentang kejadian pagi ini dimana saya minta dia untuk tidak masuk ke kamar dulu. Ya Rabbi, putri kecilku sedang terluka. Padahal saya sudah meminta dengan kata yang terjaga, bukan dengan emosi yang membuncah didada. Itupun masih bisa menoreh luka. Maafkan bunda ya nak, bunda memang sering meminta kamu mengalah untuk adikmu karena bunda menganggap kamu sudah lebih mandiri dan bisa bunda lepas. Bunda berjanji akan mengupayakan lebih banyak waktu dan kesempatan untukmu berdua saja dengan bunda. Agar kau tak pernah merasa adikmu merebut bunda darimu.
Dan satu hikmah yang bisa saya petik pada hari ini. Pentingnya komunikasi produktif terhadap anak adalah untuk menjaga ananda agar tidak terluka. Agar ananda tetap ceria dimasanya. Agar ananda tetap pada kefitrahannya hingga dia nanti sanggup memikul tanggung jawabnya sebagai hamba Rabb Sang Maha Kuasa.
Saya kira masalah tersebut sudah selesai . Ternyata Dina masih menyimpan lara didadanya. Ketika saya mau berangkat kuliah, dia protes. Bunda lebih sayang pada Fahmi. Bunda lebih perhatiin Fahmi. Deg. . . . dalam hati saya kaget. Diwaktu kritis seperti ini disaat sy mau berangkat kuliah, malah putri kecilku bicara seperti itu. Saya pun menunda keberangkatan. Saya selami hati dan perasaannya. Ada apakah dengan dirinya. Mengapa dia berkata seperti itu. Mengalirlah cerita darinya tentang kejadian pagi ini dimana saya minta dia untuk tidak masuk ke kamar dulu. Ya Rabbi, putri kecilku sedang terluka. Padahal saya sudah meminta dengan kata yang terjaga, bukan dengan emosi yang membuncah didada. Itupun masih bisa menoreh luka. Maafkan bunda ya nak, bunda memang sering meminta kamu mengalah untuk adikmu karena bunda menganggap kamu sudah lebih mandiri dan bisa bunda lepas. Bunda berjanji akan mengupayakan lebih banyak waktu dan kesempatan untukmu berdua saja dengan bunda. Agar kau tak pernah merasa adikmu merebut bunda darimu.
Dan satu hikmah yang bisa saya petik pada hari ini. Pentingnya komunikasi produktif terhadap anak adalah untuk menjaga ananda agar tidak terluka. Agar ananda tetap ceria dimasanya. Agar ananda tetap pada kefitrahannya hingga dia nanti sanggup memikul tanggung jawabnya sebagai hamba Rabb Sang Maha Kuasa.
Langganan:
Postingan (Atom)