Minggu, 16 Juli 2017

Tentang apa ya?

Hari ketiga pelaksanaan game kemandirian.  Ahad,  16 Juli 2017.
Hari ini kami banyak beraktivitas diluar rumah.  Kami pergi berenang ke taman indraloka.  Kami berangkat dari rumah pukul 09.30. Agak siang memang.  Hal tersebut dikarenakan kami harus menunggu Ayah pulang dari kegiatan tahsin.  Sebelum berangkat,  Dina lebih suka menonton fillm kartun dora emon kesayangannya.  Otomatis,  dia tidak menyentuh buku-bukunya sama sekali.  
Pulang dari berenang pukul setengah dua siang,  dilanjutkan dengan makan siang dirumah dan shalat.  Setelah itu saya berbaring sebentar(bukan tidur lho ya).   sementara itu dina asik bermain bersama adeknya.  Anak-anak memang energinya luar biasa,  tak mengenal kata capek.  Setelah shalat ashar,  Dina dan adeknya malah bermain diluar dengan teman-temannya hingga jam 5 sore.
Seharian Dina sama sekali tak menyentuh buku-buku yang biasanya walau cuma satu buah dia baca.  Saya pun agak kebingungan ketika harus menuliskan progres tantangan dihari ketiga ini. 
Namun beberapa hal yang saya amati terkait dengan hal rapi-merapikan.  Hari ini,  Dina mengembalikan kembali tasnya ditempat semula setelah dia mengambil buku Ummi dari dalam tasnya.  Kemudian,  ketika diingatkan tentang handuk yang masih berada didalam kanar setelah dia mandi,  dia langsung bergerak menaruh ditempat jemuran,  tidak pake ngambek dulu.  Akan tetapi untuk masalah mukena,  dia masih meletakkanya ditempat dimana dia shalat.  Meski sudah mau melipat dan merapikan,  namun masih sering lupa mengembalikan ke tempat mukena yang seharusnya.  Mungkin ini yang akan saya jadikan sebagai tantangan  dalam melatih kemandiriannya untuk hari-hari selanjutnya. 

Sabtu, 15 Juli 2017

Kejutan yang indah

Hari kedua pelaksanaan  game kemandirian yaitu Sabtu,  15 Juli 2017.
Selesai shalat subuh,  saya mengingatkan Dina.  "Mbak Dina lupa ya semalam? Kok buku-bukunya masih diatas sofa?". 
Dina pun menjawab,  "iya bun.  Dina langsung tidur.Tapi memang mengapa sih bun,  harus dirapiin? Ntar kan dibaca lagi? " Ternyata memberi pengertian kepada anak pentingnya melakukan suatu pekerjaan itu harus terus menerus ya.  Tidak bisa cuma sekali dua kali.  Padahal intinya sih sama.  Saya pun menjelaskan kembali kepada Dina pentingnya merapikan buku ataupun barangnya yang lain, misalnya mainan. 
Dan pagi harinya saya terkejut.  Setelah sarapan bubur,  Dina membereskan kembali buku bacaannya yang masih berserakan diatas sofa.  Dia kembalikan ke tempat semula sesuai dengan urutannya.  Alhamdulillah segala puji untukmu ya Rabb. 

Jumat, 14 Juli 2017

Jangan pernah lelah

Sebenarnya tantangan kemandirian ini sudah saya laksanakan sejak tgl 13 juli kemarin.  Namun berhubung sy sudah memutuskan untuk memulainya dihari ini,  maka dokumentasi sy mulai dari hari ini,jumat 14 Juli 2017.
Untuk si sulung,  mbak Dina (8th) saya memilih mengajarkan kemandirian dalam bentuk merapikan kembali buku yang sudah dia baca. Mungkin ini sangat terlambat, karena selama ini kami memanjakannya dan jarang melibatkan dia dalam proses pengurusan domestik rumah tangga.  Terimakasih IIP yang mengajarkan saya tuk mengoreksi kesalahan pengasuhan dimasa yang telah lewat.
 Alhamdulillah dirumah,  saya menyediakan koleksi buku yang cukup banyak untuk menumbuhkan minat bacanya.  Meski kadang masih kalah bersaing dengan televisi,  namun saya mencoba untuk terus memupuk semangat Dina membaca buku.  Bagi saya agak susah menerapkan teori satu buku selesai,  kembalikan,  baru boleh ambil buku yang lain.  Hal itu karena saya tidak mengawasi langsung ketika saya bekerja.  Sementara itu,  mbak pengasuh lebih suka merapikan sendiri daripada melibatkan dina.  Alhasil,  saya pun memodifikasi tantangan tersebut.  Ketika saya pulang,  saya ingatkan Mbak Dina untuk merapikan semua buku yang dia baca. Batas waktunya sampai dia aakan tidur.  Malam sebelumnya,  tantangan tersebut berhasil dilaksanakan.  Sehabis shalat isya,  saya ingatkan Dina untuk merapikan bukunya.  Meskipun tetap dengan bantuan dari saya,  karena bukunya lumayan berat,  dia bersedia merapikan kembali buku tersebut sesuai dengan urutannya. Naamun,  malam ini...jreng...jreng..jreng. Saya sampai rumah pukul 21.00 sepulang dari kuliah malam.  Anak-anak sudah tidur dan saya lihat,  buku masih menumpuk di sofa. Itu artinya Mbak Dina tidak mengembalikan buku tersebut dan merapikannnya ditempat semula.  Belum berhasil dihari pertama.  Barangkali Mbak pengasuh juga lupa untuk  mengingatkannya.  Tidaklah perlu sesal dan lara,  karena bagi saya itu menjadi sebuah tanda.  Saya sebagai Bundanya yang paling bertanggung jawab akan itu semua.  Untuk tak pernah jemu dan lelah membimbing dina.  Melangkahkan kaki setapak demi setapak melewati tangga menuju kemandiriannya. 

Rabu, 21 Juni 2017

Tak sekedar game

Bagi saya yang paling berkesan dalam mengerjakan tantangan game ini adalah "keharusan untuk membuat narasi dalam bentuk tulisan" .  Saya bukanlah tipe wanita yang suka dengan hal yang berbau "tulis menulis" .  Saya lebih suka disuruh bicara langsung dan berimprovisasi dalam pembicaraan dibanding dalam tulisan.  Boleh dibilang ini adalah suatu bentuk "pemaksaan"  terhadap  diri saya. He. . He. . . (diartikan positif ya) . 
Dan setelah saya belajar menyusun kata dalam tulisan,  ada hikmah lain yang saya dapatkan.  Saya serasa sedang menulis lembaran kitab kehidupan yang saya rangkai tiap hari dengan anak-anak.  Dan ketika saya buka-buka kembali catatan yang terdahulu,  tergambar dengan jelas perilaku saya terhadap anak yang kalau tak terdokumentasikan dalam tulisan saya pasti telah melupakannya. Terbayang nanti di yaumil mahsyar,  akan seperti ini pula ketika kita dihadapkan pada kitab kehidupan yang telah dicatat oleh malaikat.  Semua terbuka nyata tanpa ada yang tersembunyi . Hal itu memunculkan kesadaran dalam diri bahwa semua yg dilakukan terhadap anak:pengendalian emosi, fokus pada solusi, KISS dan lain-lainnya bukan sekedar untuk memenuhi tantangan dalam game. Semua itu akan kita pertanggung jawabkan kelak.  Dan kesadaran ini yang semakin menguatkan saya untuk tetap berfikir positif,  menjaga amanah terhadap anak-anak meski game telah usai.  

Rabu, 14 Juni 2017

Belajar dengan bermain

Day 11 pelaksanaan game komunikasi produktif.  Hari ahad tersebut,  saya menghabiskan waktu bertiga dengan anak-anak.  Berfikir bagaimana caranya biar mereka tidak meminta hp untuk dimainkan.  Akhirnya tercetus ide untuk main petak umpet dirumah.  Walau tempat sembunyi cukup terbatas,  permainan yang kami lakukan berlangsung cukup menyenangkan.  Sesekali diselingi teriakan Dina yang agak marah karena Fahmi tidak mau jaga.  Namun dengan pendekatan baik-baik,  dia bisa mengerti kalau adiknya belum begitu ngerti permainana tersebut.  Alhasil,  saya juga yang kebanyakan jaga menggantikan Fahmi
Setelah main petak umpet selesai,  saya ajak anak-anak bermain congklak. Seperti permainan sebelumnya,  Fahmi lebih banyak ngrecokin daripada ikut main.  Biji congklak diambil,  kemudian ditaruh disembarang tempat yang dia mau. Hem. . . . berfikir. . . lagi.  Dina sudah agak senewen.  Sy sampai harus sering mengingatkan dia untuk sabar menghadapi kelakuan adiknya (padahal itu jg sebuabh pengingatan untuk diri saya sendiri). Dengan tipikal Fahni yang iseng,  Dina pasti bisa tambah marah kalau terus direcokin.  Begitu juga dengan saya,  agak takut kalau kelepasan emosi.  Akhirnya saya cari ide lain.  Ketika giliran Dina bermain,  saya ajak Fahmi main batu gunting kertas.  Begitu pula sebaliknya,  ketika giliran saya bermain,  Dina yang mengajak Fahmi bermain gunting  batu kertas.  Permainan congklak kami aman,  Fahmi pun merasa dilibatkan.  

Minggu, 11 Juni 2017

Minta Maaf Ya Nak!!!

Saya perhatikan,  Fahmi,  anak laki-laki saya ini mempunyai ego yang sangat tinggi.  Seperti malam itu,  Saya sedang mengaji dikamar.  Dina dan Fahmi ikut bermain dikamar.  Dina tidur-tiduran di kasur, Fahmi lompat-lompatan sambil menjatuhkan badannya ke kasur.  Saya sudah mengingatkan Fahmi untuk hati-hati. Jangan sampai dia menginjak atau jatuhin badannya ke mbak dina.  Namanya anak-anak,  diingatkan begitu bilang iya.  Tapi kenyataan berkata sebaliknya.  Fahmi beneran menginjak Dina.  Dina yang kesakitan karena kakinya diinjak langsung menangis. Saya berhenti mengaji. Saya panggil Fahmi dan jelaskan perbuatannya salah menyakiti mbak Dina.  Fahmi harus minta maaf.  Fahmi mencoba mengelak dengan menyebutkan kalau dia hanya mau "A" .  Saya pun berusaha konsisten dan menegakkan keadilan dengan tetap meminta dia minta maaf kepada Dina terlebih dahulu. Sampai beberapa lama,  dia tetap tidak mau meminta maaf.  Saya yang sudah kewalahan memberi pengertian akhirnya minta bantuan Ayahnya setelah menjelaskan duduk perkaranya.  Baru setelah Ayahnya turun tangan,  beberapa waktu kemudian Fahmi mau minta maaf dan selesailah masalah dimalam itu. Meskipun sudah tidak mengandalkan emosi dan nada tinggi,  bahasa menyesuaikan dengan anak umur 3,5 tahun,  namun masih belum berhasil membujuk Fahmi minta maaf.  Barangkali dia lebih faham dengan bahasa Ayahnya yang juga seorang laki-laki. He. . He. . . 

Sabtu, 10 Juni 2017

Ngedate dengan Dina

Sore itu saya pergi berdua saja dengan dina ke Lippo Kramat Jati. Dina harus memakai rok jeans untuk acara sekolahnya.  Kami harus membeli yang baru karena roknya hilang ketika outbond
Kami langsung menuju matahari.  Dan langsung menuju ke counter busana anak-anak.  Kami berkeliling mencari mana yang paling sesuai untuk Dina. Seperti biasa,  Dina yang sangat suka dengan baju-baju cantik model "princes" langsung minta dibeliin.  Padahal kalau lihat harganya,  bunda yang pusing. He. . He. . . He. . . Saya pun beri pemahaman ke Dina tujuan kami ke sini untuk membeli rok jeans, tentang harga baju model princess yang "menguras kantong"  serta fungsi bajunya.  Dina sudah umur 8 tahun dan sudah tidak cocok lagi mengenakan baju seperti itu.  Meski dengan sedikit cemberut,  Dina tidak memaksakan kehendaknya untuk membeli baju tersebut. Aman dan tenanglah "kantong"  bunda(he..he..he)